Darul Manthiq - Bening Hati Cemerlang Akal Di Sini dan Di Sana

PENGETAHUAN SPIRITUAL IBNU ARABI AL-SYAIKHU 'L-AKBAR

Jumat, 09 Desember 2011

Mendengar atau membaca untaian kata Ibnu Arabi yang menjadi nama yang tertuju kepada Filosof Muslim Andalusia, langsung bersentuhan dengan penyimpangan dari ajaran Al-Islam, mengingat Ibnu Arabi menyampaikan ajarannya tentang Wihdatu 'l-Wujud.

Tuduhan penyimpangan tersebut atau penyalahan memahami banyak orang terhadap ajaran Wihdatu 'l-Wujud Ibnu Arabi ini, telah mengakibatkan beliau hijrah dari Andalusia (Spanyol sekarang) ke Makkah Arab Saudi. Beliau dikejar-kejar dan hendak dipenjarakan, bahkan mungkin dibunuh oleh penguasa saat itu karena ajarannya dianggap sesat dan menyesatkan. 

Sebenarnya yang menimpa kepada Ibnu Arabi seperti tersebut di atas, juga menimpa tokoh sufi lainnya, seperti Al-Hallaj dengan ajaran "Aku Allah" (Ana 'l-Haqq); dan Syeikh Siti Jenar dengan konsep "Manungaling Kawula Gusti".

Ada hal yang menarik dari Ibnu Arabi itu, yaitu mengenai ajarannya berupa pengetahuan yang sama sekali tidak dapat dibuktikan dengan pengalaman empiris; dan tak terjangkau oleh akal-rasional. Hal ini menjadi suatu tataran yang bersifat ilahiah yang transcendental yang mengandung dan mengundang persengketaan.

Orang pada umumnya membikin pertentangan mengenai pengetahuan atau mempertentangkan pengetahuan dengan spiritualitas. Mengingat pengetahuan mesti ilmu dalam artian sain yang diproduksi penelitian yang mengandalkan kekuatan indera semata. Padahal ada hal-hal yang bersifat spiritual-ilahiah dalam pengetahuan itu, sehingga Sayyed Hossein Nasr mengemukakan bahwa ada Scientia Sacra, yaitu tentang yang ilahi dan yang suci, yang tidak dapat dijangkau dengan penalaran rasional semata-mata, tetapi juga diperlukan intuisi dan kejernihan hati nurani untuk dapat menggapainya.

Fa Wajada 'Abdan Min 'Ibadina Atainahu Rahmatan Min 'Indina Wa 'Allamnahu Min Ladunna 'Ilman: Lantas mereka berdua bertemu dengan salah seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami memberikan rahmat kepadanya dari sisi Kami; dan Kami telah mengajarkan suatu ilmu kepadanya dari sisi Kami. (QSS. Al-Kahfi, 18 : 65).

Pertentangan suatu ajaran pada dasarnya tidaklah, merupakan, hal yang aneh, mengingat al-Kisah mengingatkan bahwa hampir seluruh ajaran baru pada awalnya dianggap sempalan dan ditentang oleh masyarakat setempat.

Dengan demikian, ayat tersebut menggambarkan adanya ilmu yang langsung berasal dari Allah Swt Awj berupa ilham atau wahyu. Salah seorang dari hamba-hamba Allah Swt Awj adalah Nabi Khidhir; dan yang dimaksud dengan rahmat adalah wahyu dan kenabian. Sedangkan yang dimaksud ilmu adalah ilmu tentang yang ghaib sebagaimna tercantum dalam kisah Nabi Musa dan Khidhir yang tercantum dalam QSS. Al-Kahfi, 18 : 66 -82). Di mana kisah tersebut menunjukkan bahwa,

A. Ilmu Laduni:
1. Ilmu Mukasyafah: mampu melihat dengan pandangan batin yang berasal dari ilham maupun dari wahyu;
2. Pengetahuan yang diperoleh seseorang yang shalih dari Allah Swt Awj melalui ilham dan tanpa dipelajari dahulu melalui suatu jenjang pendidikan tertentu;
3. Ilmu yang bukan hasil dari proses pemikiran, melainkan sepenuhnya tergantung atas kehendak dan karunia Allah Swt Awj;
4. Bukanlah hasil mempelajari suatu ilmu pengetahuan, tetapi merupakan ilham yang diletakkan ke dalam jiwa (qalbu: hati nurani) orang mu'min yang hatinya bersih. Pengetahuan pemberian Allah Swt Awj untuk menangkap suatu kejadian yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi; sebab, hati yang bersih dapat melakukan komunikasi kepada sumber ilmu, yaitu Allah Swt Awj Yang Maha Mengetahui segala sesuatu;

B. Nabi Khidhir As sebagai orang yang mempunyai ilmu laduni dan Nabi Musa As sebagai orang yang mempunyai pengetahuan biasa serta ilmu lahir.

C. Namun pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah ilmu laduni, yang artinya ilmu yang berasal dari Allah Swt Awj. Qalu Subhanaka La 'Ilma Lana Illa Ma 'Allamtana Innaka Anta 'l-'Alimu 'l-Hakim: Para malaikat berkata "Mahasuci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan selain ilmu yang Engkau telah mengajarkannya kepada kami; sungguh Engkau Maha benar-benar Mengetahui lagi Maha Bijaksana ." (QSS. Al-Baqarah, 2 : 32).

Ibnu Arabi menjelaskan bahwa:
1. Ulama Syari'at mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kiamat. Semakin hari, ilmu mereka semakin jauh dari nasab;
2. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka;
3. Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah Swt Awj secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong sistem belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah Swt Awj;
4. Maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud, bukan dari hasil pebahasan, pemikiran, dugaan, ataupun taksiran belaka.


Related Post

0 komentar:

Poskan Komentar